Senin, 12 Januari 2009

Social center

Mizan New Media: Menjadikan Produk-Produk Mizan dapat Diakses dengan Berbagai Media dan pada Berbagai Kesempatan

Adalah Nicholas Negroponte, Profesor Teknologi Media di MIT (Massachussetts Institute of Technology), yang menulis buku dengan judul Being Digital. Buku itu, aslinya, diterbitkan pada 1995. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1998, Penerbit Mizan, di bawah “Seri Alaf”, menerbitkannya dalam edisi Indonesia. Sang raja media, Rupert Murdoch, berkomentar menarik tentang karya Negroponte ini, “Being Digital menyajikan fokus yang tajam tentang kemungkinan tak terhingga bagi masa depan, dan Anda tak perlu masuk MIT untuk bisa mengambil manfaat dari buku ini.”
Bayangkan, suatu pagi Anda membaca koran digital yang “dicetak” khusus untuk Anda. Dibantu oleh alat telepresence (kehadiran jarak jauh), bentuk digital Anda dapat hadir di beberapa tempat pada saat yang sama, tanpa harus berpindah sejangka pun dari rumah Anda. Banyak pekerjaan Anda akan diambil alih oleh antarmuka (penghubung) digital yang cerdas. Anda hidup di dunia digital. Ini tak terhindarkan.
Pada Kamis, 24 Februari 2008, apa yang digagas oleh Negroponte itu dihadirkan Mizan dalam bentuk “Mizan New Media”. Lewat “Mizan New Media”, Mizan Group menghadirkan layanan yang lebih komprehensif bagi masyarakat Indonesia untuk menyiasati era digital serta konvergensi media. Unit baru di dalam Mizan Group ini akan memastikan agar produk-produk Mizan dapat diakses dengan berbagai media dan pada berbagai kesempatan. “Mizan New Media” mengelola inisiatif-inisiatif konvergensi media yang telah dan akan dilakukan oleh Mizan Group.
Seperti yang dikatakan oleh Prof. Henry Jenkins (Convergence Culture Consortium, Massachussetts Institute of Technology), konvergensi adalah aliran konten (informasi, gambar, audio, video, dan lain-lain) ke pelbagai platform media, kerja sama antara pelbagai industri media, serta perilaku audiens yang memakai pelbagai media untuk mengonsumsi konten. Konvergensi media bukan saja didesain secara top-down oleh perusahaan-perusahaan yang ingin memperluas jangkauan bisnis melalui pelbagai platform media, tetapi juga secara bottom-up oleh hasrat konsumen yang ingin menggunakan media di mana pun, kapan pun, dan dalam format apa pun yang mereka inginkan.
Menurut Jenkins lagi, konvergensi bukan semata kemajuan teknologi, yaitu arah menuju adanya sebuah alat yang bisa melakukan pelbagai fungsi media. Terlebih-lebih, konvergensi adalah sebuah pergeseran budaya ketika konsumen dimungkinkan mengakses informasi dan konten yang sama (e-mail, misalnya) dalam pelbagai paltform media. Jadi, piranti keras bisa saja malah semakin beragam, tetapi konten yang akan berkonvergensi hingga bisa dibaca dalam pelbagai platform piranti keras.
Tantangan konvergensi, karenanya, ini sangat dirasakan oleh penyedia layanan content via teknologi cetak (penerbit buku, koran, dan majalah). Bagi mereka, kemampuan konvergensi ini bukan saja bisa menjadi bagian dari ikhtiar integrated marketing communication, tetapi bukan tidak mungkin menjadi harapan utama, kalau tidak satu-satunya, agar tetap survive di masa-masa datang.

Tidak ada komentar: